Minggu, 04 Maret 2012

Road to Jakarta *edisi Perumnas

0 komentar
Berdebar-debar rasanya mau k Jakarta memenuhi panggilan wawancara awal perumnas. Betapa tidak, aku kan anak rumahan yang gag pernah kemana-mana.. *tutup muka pake sarung.

Untung ajah gag sendirian lolosnya. Ada Heri sama Rifki.. berangkat ke Jakarta naik pesawat.. *pengalaman pertama juga naik pesawat, dan yang beruntung memerawani naek pesawatku adalah Citilink.. selamat kepada Citilink “eeah”

Karena ini adalah pertama naik pesawat saya akan bikin panduan:

1. Pesan tiket

Pemesanan tiket ada banyak cara, namun yang paling fleksibel yaitu dengan memesan secara online.. namun, saya nitip teman karena saya masih cupu dlm dunia penerbangan. Setelah pesan online yg harus d lakukan adalah melakukan pembayaran via transfer dimana harus d lakukan maksimal 2 jam setelah pemesanan. Gue katrok, mau transfer ajah masih ngerepotin temen yg mesenin td..

2. Datang ke Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo

Jangan terlalu mepet. Dan yg paling penting pahami mana keberangkatan dan kedatangan, mana domestic mana internasional, dan yg lebih penting lagi jangan ceroboh dlm parkir !! karena ketika kita kelewatan sedikit maka muternya jauh harus puter satu lap.. dan gue muter tiga lap!!

3. Check in.

Check in Citilink setengah jam sebelum jadwal keberangkatan. Jangan sampe telat karena kalo kita telat kita telah member makan para pilot dan pramugari dengan sukarela.

Kita juga harus membayar airport Tax yg kemarin sih jumlahnya 40.000.

Setelah check in kita menuju ke ruang tunggu, abaikan apabila ada orang memanggil2 dengan dalih asuransi.

4. Menuju pesawat

Gue ngebayangin langsung gt dr ruang tunggu ke pesawat lewat terowongan hidrolik. Preketek mimpi Cuma jadi mimpi. Yang ada, d suruh turun ke bawah lewat tangga, kemudian d oper naek bus menuju tempat pesawat yang ada d pojokan.

5. Di dalam pesawat

Biasa ajah pokoknya

Nyampe Bandara soetta langsung cari Bus Damri, angkutan yg murah meriah dari bandara. turun kuningan.

Dari kuningan kita naek taksi menuju gang tiong. Begitu sok ud tau Jakarta “ Pak, kita mau ke gang tiong, itu loh pak gang sebelum pom bensin Shell arah ambassador” suasana langsung hening, dan memuncak ketika mencapai tempat tujuan Cuma abis 12.000. sang sopir langsung masang tampang serem dan gag butuh uang. Jakarta malam hari udah Nampak keras. Apalagi ketika matahari udah Onn.

Selasa, 18 Mei 2010

sekilas riwayat

0 komentar
*kenapa makam ibu tidak dijadikan 1 di komplek makam utama??
itulah protes hati dari seorang anak yang merasakan adanya ketidak adilan dalam keputusan bapak..
apa karena istri muda itu??
yang tiba2 datang meracuni jalan pikiran..
membuat semua yang telah dibangun menjadi tersampingkan
padahal dia orang baru, se-baru itukah hati bisa berubah,

beranjak dewasa, luka hati ini menjadi,
keterpurukan, ketersampingan, ketidakadilan yang nyata
berontak dan tidak terkendali
dan pengasingan jawabannya..

dalam keterasingan
tumbuh karakter..
mengasah kuat naluri jiwa
hari-hari berat adalah teman
teman untuk kesepian,,

*tak mampu kutangkap lagi cerita berikutnya

yang jelas kutangkap, masa itu, masih melekat hingga kini dalam sanubari,
dan sepertinya, tak ada yang mampu membuat luka itu pergi,
mungkin hingga maut menghampiri..
rasa itu masih terpatri.

Sabtu, 15 Mei 2010

adamu, kini

0 komentar
sejak dulu . .
aku hampa
berkawan senyap

dulu . .
duniaku cuma
vertikal horizontal

dan dulu . .
cuma bisa berkhayal
tentang indahnya berdua

dan, itupun dulu . .
karna sekarang
aku sudah bernyanyi riang

ada telinga dan bibirmu . .
yang selalu mendengarkan
dan selalu ikut berdendang