Selasa, 18 Mei 2010

sekilas riwayat

0 komentar
*kenapa makam ibu tidak dijadikan 1 di komplek makam utama??
itulah protes hati dari seorang anak yang merasakan adanya ketidak adilan dalam keputusan bapak..
apa karena istri muda itu??
yang tiba2 datang meracuni jalan pikiran..
membuat semua yang telah dibangun menjadi tersampingkan
padahal dia orang baru, se-baru itukah hati bisa berubah,

beranjak dewasa, luka hati ini menjadi,
keterpurukan, ketersampingan, ketidakadilan yang nyata
berontak dan tidak terkendali
dan pengasingan jawabannya..

dalam keterasingan
tumbuh karakter..
mengasah kuat naluri jiwa
hari-hari berat adalah teman
teman untuk kesepian,,

*tak mampu kutangkap lagi cerita berikutnya

yang jelas kutangkap, masa itu, masih melekat hingga kini dalam sanubari,
dan sepertinya, tak ada yang mampu membuat luka itu pergi,
mungkin hingga maut menghampiri..
rasa itu masih terpatri.

Sabtu, 15 Mei 2010

adamu, kini

0 komentar
sejak dulu . .
aku hampa
berkawan senyap

dulu . .
duniaku cuma
vertikal horizontal

dan dulu . .
cuma bisa berkhayal
tentang indahnya berdua

dan, itupun dulu . .
karna sekarang
aku sudah bernyanyi riang

ada telinga dan bibirmu . .
yang selalu mendengarkan
dan selalu ikut berdendang

Sabtu, 01 Mei 2010

secuil kisah pernikahan

0 komentar
Senyumnya mengembang sejauh aku mengamatinya sedari tadi..
Meski gurat lelah tak mampu menutupinya,,
iah, hari ini engkau telah bersanding..
memenuhi sebagian fitrah kita sebagai manusia,,

engkau sahabatku memulai hidup baru..
kusangka tak akan secepat ini,,
karena kulihat ada cinta lain yang ingin menyambutmu…
dan engkau pasti mengetahui,,

naïf bila engkau menutup mata..
-namun memang harus begitu-
Karena pilihan sudah di buat..
Tak boleh ada keraguan untuk itu,,

cinta itu turut datang sekarang..
turut tersenyum pula,,
meski aku tahu ada pahit jelas tercetak dalam senyumnya..
dan mungkin,hari-harinya yang akan datang,,

jalan yang akan merubah segalanya

0 komentar

dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,

dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya,

dan sebagai pengembara, aku berdiri lama..

dan memandang ke satu jalan sejauh aku bisa,

ke mana kelokannya mengarah di balik semak belukar,

kemudian aku memandang yang satunya, sama bagusnya..

dan mungkin malah lebih bagus,

karena jalan itu segar dan mengundang,

meskipun tapak yang telah melewatinya,

juga telah merundukkan rerumputannya,

dan pagi itu keduanya sama-sama membentang,

di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik,

oh, kusimpan jalan pertama untuk kali lain!

meski tahu semua jalan berkaitan,

aku ragu akan pernah kembali,

aku akan menuturkannya sambil mendesah,

suatu saat berabad-abad mendatang,

dua jalan bercabang di hutan kehidupan, dan aku —

aku menempuh jalan yang jarang dilalui,

dan itu mengubah segalanya…